Napas Terakhir

ini masi awal tahun
tapi seperti napas terakhir

sudah tidak ada yang menarik lagi
kanan dan kiri terlihat abu
mawar melati kulihat sendu
lalu mengapa aku masih berdiri

kata teman,
hidup ya memang begini
tunggu saja sebentar lagi
mungkin sukamu datang 5 tahun lagi
mungkin sukamu datang 2 tahun lagi
mungkin sukamu datang 3 bulan lagi
setidaknya, mari bernapas untuk semua “mungkin”

tapi,
aku merasa
semua “mungkin” kini tak menarik lagi
aku sudah tidak peduli
bahagia atau sedih yang masih disimpan Tuhan,
aku tidak tertarik
melirikpun tidak

aku hanya ingin berhenti
bisakah aku tidur malam ini,
tanpa ada esok hari?

bukan puisi

kali ini aku bukan menulis puisi, sajak, atau apapun yang berhubungan dengan permainan kata.

Sudah lama aku tidak menulis. Ya, lama sekali aku tidak memberi pesan untukku. Dulu aku suka berdiskusi dengan diriku. Aku suka menuangkan isi hatiku. Entah sejak kapan kebiasaan itu lama kelamaan hilang. Aku tidak lagi berbicara pada diriku. Terakhir kali kuingat aku merobek satu buku. Buku itu benar2 berisi perjalananku hidup. Semua halaman aku potong menjadi kecil, lalu kubuang. Niatku dulu untuk melupakan semua kesedihan yang telah aku alami. Karena dulu, aku akan menulis ketika aku sedih. Hampir tiap hari aku menulis. Ya, hampir tiap hari juga aku bersedih. Lalu apakah setelah berhenti menulis kemudian aku berhenti bersedih? tentu tidak. Justru lebih buruk. Kebiasaan ku untuk menulis mulai hilang. Ketika sedih aku tidak tau harus apa. Buku2 itu sudah kubuang dengan harapan tidak akan ada kesedihan lagi. Sayang sekali, hari itu kesedihan itu datang. Aku bingung, hanya bisa menjerit tanpa suara, berteriak sambil menutup mulut. Aku takut. Dadaku sangat sakit, sesak. Kepalaku terasa penuh. Semakin lama aku menangis, rasa sakit itu semakin terasa aneh, sakit tapi tidak bisa kurasa. Untuk pertama kali nya antara sadar dan tidak aku mengambil benda yang ada disekitarku, seingatku benda itu adalah penggaris besi. Aku genggam dengan sangat keras, aku gesekan penggaris itu dari tangan hingga kaki. Rasa sakit yang tadinya tidak jelas sekarang jadi semakin jelas. Ini lebih baik. Merasakan sakit yang jelas dimana lukanya dan bisa dilihat bagaimana lukanya. Daripada merasakan rasa sakit yang tidak tau dari mana asalnya dan bagaimana bentuknya. Kejadian ini terjadi sekitar 1 tahun yang lalu. Aku merasa ini menjadi puncak dimana aku tidak bisa lagi mengontrol diriku ketika kesedihan, kecemasan, ketakutan semua itu datang. Setelah penggaris besi, aku jadi takut aku bisa melakukan hal yang lebih parah. Hari-hari itu menjadi hari yang sangat menyeramkan. Tiap rasa itu datang lagi, aku akan menangis menangis dan menangis yang ku ingat adalah penggaris besi. Aku bersembunyi di kamar mandi. Ini lebih baik. Dikamar aku bisa saja mengambil benda yang lebih tajam dari penggaris besi. Aku pikir di kamar mandi aku bisa menghindar dari menyakiti diri sendiri. Tapi aku salah, aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku. Tanganku terus memukul lantai, mencakar kaki, tangan sebagai pelampiasan dari sakit yang aku rasakan. Aku tau ada yang tidak benar dari diriku. Jiwaku sakit.

Satu tahun sudah setelah kejadian itu terjadi. Kini aku merasa lebih baik. Mungkin. Karena aku bersama keluarga dirumah. Aku sudah tidak menangis. Atau aku hanya menahan untuk tidak menangis? entahlah. Perlahan aku bisa mengontrol diriku. Mungkin karena terpaksa. Kadang aku merindukan hidup sendiri. Karena disitu aku bisa benar2 menjadi diriku. Tidak perlu memakai topeng.

Hari ini aku ingin terus menulis. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku keluarkan dari kepalaku. Tapi aku bingung dari mana aku harus memulai. Setidaknya hari ini aku mulai menulis lagi. Walaupun berantakan. Aku bahkan tidak tau kenapa aku menceritakan kejadian ini. Mungkin ini salah satu kejadian yang masih terngiang2 dikepalaku, secara tidak sadar aku masih belum bisa give up the past. Berharap aku bisa lebih baik untuk kedepan.

Karma/?

Kalau alam sudah bertindak,

aku bisa apa?

alam yang menentukan,

aku hanya korban

 

sudah kubilang,

alam tidak ingkar janji

alam telah menyaksikan

lalu mengembalikan

apa yang seharusnya aku dapatkan

 

Alam terlihat kejam

begitu juga kamu,

aku hanya mengadu pada-Nya

tidak minta hal hal buruk, terjadi padamu

 

Jika nanti terjadi sesuatu,

itu brarti ulah alam

yang sudah tidak tahan, dengan sikapmu

 

Ya,

Orang menyebutnya karma

ia bisa datang kapan saja,

di waktu yang tak terduga

di tempat yang biasa, atau luar biasa

bisa datang kepadamu, atau anakmu

 

Satu pesanku: butuh 10 detik untukmu menjadi bajingan, butuh 10 tahun untukku memberi kata maaf

Bintang, jangan pergi

Selamat malam, bintang. Aku selalu tau dimana kamu, karna warnamu tidak pernah berubah. Orange, hampir merah. Seperti yg selalu aku katakan “lihat! Bintang merah!” dan yg selalu ia katakan “oh iya!” atau “itu bukan bintang merah”. Tanganku terbiasa mencoba meraih-Mu tiap kali malam tiba. Jika ia ada, biasanya ia mengambil tanganku “hush jangan tunjuk-tunjuk” begitu katanya.

Mencari-Mu cukup mudah, karna kamu selalu berada di arah timur. Kali ini aku kembali mencoba meraih-Mu. Kali ini tidak ada yang mengambil tanganku. Kali ini aku bisa berlama lama menyapa-Mu. Kali ini aku tidak mengatakan “lihat! Bintang merah!” Kali ini aku hanya diam, memandangmu dengan sisa senyum yg ku punya.

Kali ini bulan kelihatan begitu dekat dengan bintang merah. Aku iri, karena pada nyatanya bulan begitu jauh dengan bintang merah.

Aku menganggapnya seperti bintang merah. Yang selalu ada saat bintang-bintang lainnya bersembunyi. Yang paling terlihat diantara yang lain. Yang paling berbeda dengan keindahannya sendiri.

Tapi ternyata itu hanya imajinasi. Ternyata ia memilih pergi. Bahkan tanpa kata permisi. Andai saja ia mengerti. Aku masih disini, menunggu dengan senang hati, mendoakan yang terbaik.

Kalau kamu membaca ini, sapa bintang merah ya tiap malam!:)

Karna disitu, aku sedang berbincang dengan merah!
Kamu baik baik terus yaaa :))

Pesan dari langit

Yang kau tinggalkan kini tak tau arah. Mau makan pun tubuh membantah. Sudah kesekian kalinya mencari sumur pelepas resah. Sepertinya ini sumur ke lima puluh lima. Ku usapkan berkali kali, dengan harap derita berhenti. Ya, aku bahagia tapi hanya sementara.

Saat purnama hadir menyapa, aku mulai tersiksa. Saat bintang memanggil, hey kemari, aku kembali menangis. Kapan ini bisa berakhir? Tiap malam aku terus mengadu, sambil tersedu-sedu, di pangkuan bumi aku meronta, dihadapan langit aku berdoa, kenapa harus aku?

Angin malam memelukku erat, rasanya begitu hangat, ia berbisik: yang bisa kami lakukan hanya menghibur dan mendengarkan. Perihal kapan kamu sembuh, kamu sendiri yang menentukan. Melupakan memang susah, tapi kamu hidup untuk banyak orang, bukan satu. Setau kami, kamu kuat.

Salahku apa? Aku pernah berbuat apa? Aku pernah melakukan apa? Beritahu aku. Agar aku bisa perbaiki. Bukan begini cara kamu memperlakukan manusia. Langit telah menjadi saksi, alam mendengar dan melihat. Tidak adakah sedikit ketakutan dalam dirimu?

Semalam angin kembali berbisik: biar kami yang membalasnya.